Home News Profile Photo Contact Person About Us
HIMPUNAN KISAH-KISAH AGAMA

KISAH-KISAH YANG DIKUMPULKAN DI SINI DIRUJUK DARI KITAB KASYKUL, AN-NAWADIR DAN AKHBARUL HAMQA WAL MUGHFILIN DAN KITAB-KITAB SEJARAH SEPERTI AL-BIDAYAH WAN FA ', AL-MUSTATRAF, JAMI'ATU KARAMATIL AULIYA', TARIKHUL KHULAHIN, MUSLIM SAINTS DAN MYSTICS, SUFIS OF ANDALUSIA

KISAH UNTA mematahkan RANCANGAN Abu Jahal UNTUK MEMBUNUH RASULULLAH shallallahu alaihi wa sallam.Setelah berbagai usaha oleh kaum Quraisy untuk memblokir dan menghapus penyebaran agama Islam menemui kegagalan, maka Abu Jahal semakin benci terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Kebencian Abu Jahal ini tidak ada bandingnya, bahkan melebihi kebencian Abu Lahab terhadap Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam. Melihat agama Islam semakin tersebar, Abu Jahal berkata kepada kaum Quraisy di dalam suatu perhimpunan, "Hai kaumku Janganlah sekali-kali membiarkan Muhammad menyebarkan ajaran barunya dengan sesuka hatinya. Ini adalah karena dia telah menghina agama nenek moyang kita, dia mencela tuhan yang kita sembah. Demi Tuhan, aku berjanji kepada kamu sekalian, bahwa esok aku akan membawa batu ke Masjidil Haram untuk dibalingkan ke kepala Muhammad ketika dia sujud . Setelah itu, terserah kepada kalian apakah mau menyerahkan aku kepada keluarganya atau kamu membela aku dari ancaman kerabatnya. Biarlah orang-orang Bani Hasyim bertindak apa yang mereka sukai.

" Tatkala mendengar jaminan dari Abu Jahal, maka orang yang menghadiri pertemuan itu mengatakan secara serentak kepadanya, "Demi Tuhan, kami tidak akan sekali-kali menyerahkan engkau kepada keluarga Muhammad. Lanjutkan niatmu." Orang banyak yang menghadiri pertemuan itu merasa bangga mendengar kata-kata yang diucapkan oleh Abu Jahal bahwa dia akan menghapus Muhammad karena jika Abu Jahal berhasil menghapus Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berarti akan terhapuslah segala keresahan dan kesusahan mereka selama ini yang disebabkan oleh kegiatan Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam menyebarkan agama Islam di kalangan mereka. Dalam pada itu, ada juga para hadirin di situ telah mengira-ngira biaya untuk mengadakan pesta jika Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam berhasil dihapus. Pada pandangan mereka adalah mudah untuk membunuh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam yang dikasihi oleh Tuhan Yang Maha Esa serta sekalian penghuni langit. Padahal Allah tidak akan sekali-kali membiarkan kekasih-Nya diancam dan diperlakukan seperti binatang.

Dengan perasaan bangga, keesokan harinya di pagi, Abu Jahal pun terus pergi ke Ka'bah yaitu tempat biasa Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam shalat.

Dengan langkahnya seperti seorang satria, dia berjalan dengan membawa batu besar di tangan sambil diiringi oleh beberapa orang Quraisy yang dekat dengannya. Tujuan dia mengajak teman-temannya adalah untuk melihat bagaimana nanti dia akan menghimpitkan batu itu di atas kepala Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam. Sepanjang perjalanan itu dia membayangkan bagaimana kondisi Nabi Muhammad nanti setelah kepalanya dibenturkan oleh batu itu. Dia tersenyum sendirian saat membayangkan kepala Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam pecah dan tidak bergerak lagi.

Dan juga membayangkan bagaimana kaum Quraisy akanmenyambutnya sebagai pahlawan yang berhasil membunuh musuh nomor satu mereka.

Setelah Abu Jahal tiba di pekarangan Masjidil Haram, dilihatnya Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam baru saja sampai dan hendak mengerjakan shalat.

Dalam pada itu, Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tidak menyadari akan kehadiran Abu Jahal dan kawan-kawannya di situ.Beliau tidak pernah berpikir apa yang hendak dilakukan oleh Abu Jahal terhadap dirinya pada hari itu. Sebaik-baik saja Abu Jahal melihat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam telah mulai shalat, dia berjalan perlahan-lahan dari arah belakang menuju Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam . Abu Jahal melangkah dengan hati-hati, setiap pergerakannya dijaga, takut disadari oleh beliau. Dari jauh teman Abu Jahal memperhatikan dengan perasaan cemas bercampur gembira. Dalam hati mereka berkata, "Kali ini akan musnahlah engkau hai Muhammad." Setelah Abu Jahal ingin mendekati Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan mengayun batu yang dipegangnya itu, tiba-tiba secepat kilat dia mundur ke belakang. Batu yang dipegangnya juga jatuh ke tanah. Mukanya yang tadi merah kini menjadi pucat pasi seolah-olah tidak berdarah lagi.

Rekan-rekannya yang amat bergairah untuk melihat Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam tewas, tercengang dan saling berpandangan.

Kaki Abu Jahal seolah terpaku ke bumi. Dia tidak dapat melangkahkan kaki meskipun setapak. Melihat kondisi itu, rekan-rekannya segera menarik Abu Jahal dari situ sebelum disadari oleh beliau.

Abu Jahal masih terpinga-pinga dengan kejadian yang dialaminya. Setelah dia sadar dari kejutan peristiwa tadi, rekan-rekannya tidak sabar untuk mengetahui apakah sebenarnya yang telah terjadi. Temannya bertanya, "Apakah sebenarnya yang terjadi kepada engkau, Abu Jahal? Mengapa engkau tidak menghimpitkan batu itu ke kepala Muhammad ketika dia sedang sujud tadi?" Akan tetapi Abu Jahal tetap membisu, rekan-rekannya semakin keheranan. Abu Jahal yang mereka kenali selama ini seorang yang lantang berpidato dan menyumpah seranah Nabi Shallallahu Alaihi wa Sallam, tiba-tiba saja diam membisu.

Dalam pada itu, Abu Jahal masih terbayang-bayang akan kejadian yang baru menimpanya tadi.

Dia seolah-olah tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, bahkan dia sendiri tidak menyangka hal yang sama akan berulang menimpa dirinya.

Hal yang sama pernah menimpa Abu Jahal saat Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam pergi ke rumah Abu Jahal ketika seorang Nasrani mengadu kepada beliau bahwa Abu Jahal telah merampas hartanya. Pada waktu itu Abu Jahal tidak berani berkata apa-apa pada beliau ketika dia melihat dua ekor harimau menjadi pengawal pribadi Rasulullah Shallallahu Alaihi wa Sallam.

Kemudian setelah habis mereka menghujani Abu Jahal dengan berbagai pertanyaan, maka Abu Jahal pun mulai berbicara, "Wahai sahabatku! Untuk pengetahuan kamu semua, segera aku mendekati Muhammad hendak menghimpitkan batu itu ke kepalanya, tiba-tiba muncul seekor unta yang besar hendak menendang aku. Aku amat terkejut karena belum pernah melihat unta yang sebegitu besar seumur hidupku. Jika aku teruskan niatku, niscaya akan matilah aku ditendang oleh unta itu, sebab itulah aku mundur dan membatalkan niatku. " Rekan-rekan Abu Jahal merasa sangat kecewa mendengar penjelasan itu, mereka tidak menyangka orang yang selama ini gagah dan beria-ia hendak membunuh Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam hanya tinggal kata-kata saja.

Orang yang selama ini diharapkan bisa menghapus Nabi Muhammad Shallallahu Alaihi wa Sallam dan pengaruhnya hanya bisa berbicara seperti kaleng kosong saja. Setelah mendengar penjelasan dari Abu Jahal yang tidak memuaskan itu, maka mereka pun berkata kepada Abu Jahal dengan perasaan keheranan, "Ya Abu Jahal , saat kau mendekati Muhammad tadi, kami memperhatikan engkau dari jauh tetapi kai tidak napak akan unta yang engkau katakan itu. Malah bayangnya pun kami tidak nampak. " Rekan-rekan Abu Jahal mulai sangsi dengan segala keterangan yang diberikan oleh Abu Jahal. Mereka menyangka Abu Jahal selalu mereka-reka cerita yang karut itu, mereka mulai hilang kepercayaan terhadapnya. Akhirnya segala kata-kata Abu Jahal mereka tidak berapa endahkan lagi.




IKLAN











© SIREGAR.WEBATU.COM